Minggu, 30 Desember 2012

TEORI TENTANG JIWA MANUSIA


 Sebuah teori tentang jiwa manusia dalam TQN kita dapati sbb. Bahwa tentang Jiwa (nafs) adalah sangat penting, karena berhubungan dengan sebuah keyakinan yang yang sering didengungkan bahwa :
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ  

artinya: siapa mengetahui nafs (dirinya), maka ia mengetahui Tuhannya.Ini maksudnya adalah barang siapa  yang mengetahui kelemahan dirinya, kehinaan dan kebodohan, kefanaan, dan keterbatasan dirinya, maka ia pasti akan mengetahui kemuliaan Tuhannya, kekuasaan, kemaha tahuan, dan kebaqo an Tuhannya. Pentingnya untuk mengetahui akan hakikat dirinya, juga disandarkan pada  firman Allah 

وَمَنْ كَانَ فِى هَذِهِ اَعْمَى فَهُوَ فِى اْلاَخِرَةِ اَعْمَى وَاَضْلَ سَبِيْلاً  الاسراء 72
Dan barangsiapa yang buta hatinya  didunia ini, niscaya di achirat  nanti ia akan lebih buta pula dan lebih tersesat dari jalan yang benar.  Isro 72 ,

            Dalam pandangan TQN, jiwa (nafs), adalah  kelembutan (latifah)  yang bersi fat  ketuhanan (rabbaniyah). Latifah ini sebelum bersatu dengan badan jasmani manu sia  disebut  dengan al ruch, dan jiwa adalah ruch yang telah masuk  dan bersatu deng an  jasad  yang menimbulkan potensi kesadaran (ego) . Jiwa yang diciptakan oleh Al lah  sebelum bersatunya  dengan jasad  bersifat suci, bersih dan cenderung  mendekat kepada Allah mengetahui akan Tuhannya. Akan tetapi setelah ruch tersebut ber satu dengan jasad  akhirnya  ia melihat  (mengetahui) yang  selain Allah, dan oleh  ka rena itu  terhalanglah ia dari Allah  karena sibuknya,dengan yang selain Allah itu. Itulah se babnya ia perlu dididik, dilatih dan dibersihkan agar dapat melihat, mengetahui dan berdekatan dengan  Allah swt.
          
Ruh yang masuk dan bersatu dengan jasad manusia  memiliki lapisan-lapisan  kelembutan  (latifah), sehingga dapat dikatakan  bahwa  Tujuh Latifah  yang ada pada diri manusia itu adalah  al nafs atau jiwa. Jadi jiwa menurut pandangan TQN  memiliki tujuh lapis berasarkan  nilai kelembutannya. Yaitu: 1. Al Nafs al amarah . 2, Al Nafs al lawwamah, 3 al Nafs  al Mulhimah , 4 al Nafs Muthmainnah, 5 al Nafs al Radiyah 6. al Nafs  mardiyah , 7 al Nafs  kamilah .
          
Sedangkan latifah pada tahapan selanjutnya  dipakai  sebagai istilah praktis  yang berkonotasi tempat. Latifah al  nafsi sebagai tempat  al nafs al amarah, Latifatul Qolbi  sebagai tempat  al nafs al lawwamah, Latifatu al Ruhi sebagai tempat nafs  al nafs mulhimah , dan seterusnya , sehingga terjadi perubahan  sebutan  setelah bersatu
dengan badan  menjadi :

1.      Latifat al  qolbi berubah menjadi nafs al amarah .
2.      Latifat al  ruhi  berubah  menjadi  nafs al mulhimah
3.      Latifat al sirri berubah menjadi nafs  mutmainnah
4.      Latifat khafi berubah menjadi nafs al mardiyah.
5.      Latifat al akhfa berubah menjadi nafs al kamilah
6.      Latifat al nafs berubah menjadi amarah
7.      Latifat al qolab berubah menjadi rodiyah.

Oleh karena itu al anfus (jiwa-jiwa) tersebut memiliki ciri-ciri mistis yang  sama  de- ngan  lathifah-lathifah tersebut.

1 Jiwa Lawwamah 
Jiwa ini adalah  suatu  kesadaran  akan  kebaikan  dan  kejahatan,  sehingga  ia   suka,  mencela  (al laum) baik pada diri sendiri meupun  pada orang lain.Jiwa ini terkadang  menimbulkan  semangat untuk  berbuat baik tetapi juga terkadang muncul keinginan untuk maksiat  kepada Allah, akibatnya muncul penyesalan.

            Pusat   pengendaliannya pada latifatul qobi berada  dibawah susu kiri  sekitar jarak dua jari yang condong ke kiri, dibawah susu kiri. Jiwa  ini  dibawah  dominasi sembilan  sifat-sifat jelek manusia yaitu:1.al laum (suka mencela), 2.al hawa (senang menuruti hawa nafsu 3, al makr ( makar  atau  juga menipu), 4.  al ‘ujub  (mem banggakan  diri), 5 .al gibah (menggunjing), 6.al riya (pamer atas amal dan prestasinya) ,7. al dulmu (menganiaya tidak adil),8. al kidzbu (berbohong ,9. al goflah (lupa dari me ngingat Allah ).

            Walaupun jiwa ini mendominasi  manusia  dengan sifat-sifat jelek tersebut, te tapi latifah al qolbi ini merupakan tempatnya sifat-sifat baik yaitu iman atau keya ki nan akan kebenaran syari’ah, penyerahan diri kepada  ketentuan ketentuan  sya ri’ah Allah .

2.Jiwa mulhimah
Jiwa ini merupakan kesadaran yang  mudah menerima  intuisi (ilham) dari Allah swt. yang berupa pengetahuan  Jiwa ini juga melahirkan adanya kesadaran bersifat wadu’ atau merendahkan diri, qona’ah atau menerima apa adanya .

            Pusat  pengendaliannya pada latifatur ruhy berada  di bawah  susu  kanan  ber jarak kira-kira dua jari .Ia memiliki hubungan dengan paru-paru jasmaniah manusia. Manurut TQN jiwa mulhimah memiliki tujuh sifat yang dominan yaitu: 1. al shakho wah  (dermawan).2. alqona’ah (tidak rakus), 3. al hilmi  (lapang dada), 4. al tawadu’ (merendahkan diri),5. al taubah (bertaubat), 6.al shobru ( tahan uji ), 7.al tahamul  (ta  han  menjalani penderitaan

            Disamping adanya dominasi sifat-sifat baik tersebut, dalam jiwa mulhimah ini bersarang jiwa rendah kebinatangan, yaitu jiwa binatang jinak( bahamiyah) cerderung. Menuruti hawa nafsu untuk bersenang–senang semata.Terutama kepentingan seksual

3.Jiwa mutmainnah
Jiwa ini adalah jiwa yang diterangi oleh cahaya hati nurani, sehingga bersih dari sifat sifat yang tercela dan stabil dalam kesempurnaan. Jiwa ini  merupakan  starting point untuk kesempurnaan, maka apabila  seorang salik telah menginjakkan  kakinya  pada tingkatan ini berarti ia mulai meninggalkan tingkatan tarekat  menuju tingkatan  haki kat. Dia mampu berkomunikasi dengan orang lain sementara hatinya berkomunikasi  dengan Tuhan  karena begitu terikatnya dengan Allah.

            Pusat pengendaliannya pada latifatus sirri  diatas susu kiri jarak dua jari dan  condong kekiri ,
            Jiwa ini didominasi sifat sifat baik yaitu: 1.al jud  (tidak kikirterhadap harta , demi untuk ketaatan kepada Allah.  2. al tawakkal  (bertawakkal kepada Allah  seba gaimana anak kecil berpasrah diri nya kepada ibunya), 3. al ibadah  (beribadah ikhlas kepada Allah. 4. al syukru  (bersyukur karena merasa menerima  ni’mat dari Allah.5. al rido rela terhadap hukum dan ketentuan Allah. 6  al khoswah ( takut mengerjakan 

ma’shiyat  kepada Allah.) Walaupun demikian jiwa ini tetap harus dihidupkan, sebab kalau tidak maka akan muncul sifat-sifat binatang buas (sabu’iyah), seperti rakus ambisius, menghalalkan segala cara suka bertengkan dan bermusuhan .

4.Jiwa mardiyah .
Jiwa ini merupakan realitas dari latifah hofi yang sangat lembut dan lebih condong  kepada sifat  dan kecenderungan  latifah ini. Yang bersih suci  dekat kepada Allah   karena jauh dari unsur-unsur jasmaniyah.

            Pusat pengedaliannya pada latifatul khofi diatas susu kanan sekitar dua jari dan condong kekanan Menurut TQN jiwa ini didominasi  oleh enam sifat-sifat baik manusia yaitu: 1. husnul  khuluq (baik  budi pekertinya  lahir bathin), 2. tarku ma siwa Allah (meninggalkan sesuatu yang selain Allah ), 3. al lutfu (belas kasihan kepa  da semua makhluk), 4 hamlul ahlak ‘alas shilah ( selalu mengajak kepada kebaikan), 5.as shofhu ‘anid dzunubil khalqi ( mema’af terhadap kesalahan semua pihak),6 .hubu
al ahlaqi wal mail  li ihrojihim  min dulumati taba’ihim wa anfusihim ila anwar  arwa hihim. (menyeyangi mahluk dengan maksud untuk mengeluarkan mereka dari pengaruh tabi’at  dan nafsu mereka  kepada cahaya ruhani  yang suci).

            Pada jiwa ini bersarang juga  sifat sifat jelek yang berbahaya yaitu yaitoniyah  yaitu sifat sifat syaitan, seperti hasud dengki hiyanat takabur  dan munafiq.

5 Jiwa  kamilah
Jiwa kalimah ini merupakan  penjelmaan dari latifah ahfa , ia merupakan kelembutan  yang paling dalam pada kesadaran manusia. Dengan merupakan kesadaran jiwa yang paling bersih dari pengaruh unsur-unsur materi yang lebih rendah .

            Pusat pengendalian jiwa ini pada latipatul ahfa yaitu  yaitu ditengah-tengah da da manusia. Jiwa ini didominasi oleh sifat sifat mulia yang sangat utama, yaitu:1.ilmu  yaqin, 2.’ainal yakin dan,3. haqqul yaqin. Selain ada sifat tiga utama dalam pusat ke sadaran (jiwa) ini, maka  disini juga  terdapat sifat ketuhanan yang sangat jelek yaitu sifat rububiyah, yakni sfat ketuhanan yang tidak semestinya diperguna kan oleh manusia  seperti  takabur,ujub,riya sum’sh dan sebagainya.

6. Jiwa amarah.
Jiwa ini adalah yang cenderung pada tabi’at badaniyah, karena dasarnya ia berasaldari unsur jasmaniyah walaupun bersubstansi latifah karena terlalu lembutnya) . Dan naf su atau jiwa ini pula yang membawa qalb (latifah)  kearah lebih rendah,serta menuruti keinginan –keinginan duniawi yang dilarang oleh syari’at,
            Pusat pengendaliannya pada latifatun nafsi, yaitu  di dahi antara dua alis  Jiwa ini merupakansumber segala kejahatan, dan akhlak yang tercela .

.Menurut TQN  jiwa ini memiliki  tujuh gejala:  yaitu 1. al buhl  (kikir), 2. al hirs  (ambisi dalam bidang dunia /materialistik )3.al hasad (dengki dan irihati). 4.al jahl ( bodoh susah menerimakebenaran). 5. syahwat (keinginanuntuk melanggar  syari ‘ah) (hidunistik), 6  al kibr  (merasa diri besar), 7. al godob (marah-marah  karena ha wa nafsu ).
          
   Diantara  ketujuh gejala gejala  nafs  al amarah  tersebut, ada tiga hal yang  di katakan oleh Nabi saw sebagai hal yang  merusak (destruktif) yairu
1.سُخٌّ مُطَاعٌ  yaitu kikir yang diperturutkan
2.      هَوًى مُتَّبَاعٌ   yaitu hawa nafsu yang selalu diikuti .
3.      اِعْجَابٌ  بِنَفْسِهِ   yaitu merasa bangga atas diri sendiri

7. Jiwa Radiyah
Jiwa ini sebenarnya merupakan kesadaran ruhaniyah dari latifatul qolab. Oleh karena itu ia bersifat meliputi baik dari aspek ruhaniyah maupun jasmaniyah.Ia merupakan ji wa tertinggi bagi manusia serta realitas manusia sebagai makhluk jasmani dan ruhani ,hamba Tuhan sekaligus penguasa  alam semesta. Manusia sebagai mahluk  tertinggi diantara dua alam, yaitu alam malaikat dan alam syaitani.

            Pusat pengendalian jiwa ini pada latifatul qolab yaitu berada di seluruh tubuh  (badan jasmaniyah) manusia, mulai dari ujung rambut sampai diujung kaki. Adapun sifat-sifat yang dominan yang dimiliki  jiwa ini ialah: 1.al karom (mulia/dermawan , senang shodaqoh,senang hadiah, dan senang beramal jariyah. 2 al Zuhdu  (bertapa dari materi, menerima materi-mteri yang halal walaupun sedikit,dan meninggalkan  yang subhat  walaupun banyak, apalagi yang haram), 3. al ikhlash memurnikan niatnya kepada Allah. 4. al waro’ berhati hari dalam beramal (memilih yang benar-benar baik menurut syari’ah), 5. al riyadloh (latihan terus menerus  untuk menyiksa hawa nafsu dengan selalu menghiasi diri dengan ahlakul karimah, dan meninggalkan
ahlak hayawaniyah. 6. al wafa (senantiasa memegang janji  terutama janjinya kapada Allah )
          
Keenam macam dan tingkatan jiwa ini merupakan obyek pembinaandan pendidikan  dalam tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, dan sekaligus merupakan gradual dalam sistem  tarbiyatud dzikri yang dilakukan secara  mutaroqqiyan .

          
            Sumber : Al Hikmah

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar